Menu

Mode Gelap
Kabar Gembira! Mendikbudristek Batalkan Kenaikan UKT Mahasiswa Peringatan Hari Film Nasional ke-74 Tuai Sambutan Positif Masyarakat Kemendikbudristek: Pramuka Tetap Menjadi Ekstrakurikuler yang Wajib Disediakan Sekolah Memperingati Hari Film Nasional Tahun 2024, Kemendikbudristek Perkuat Ekosistem Perfilman Indonesia Kemendikbudristek Semarakan Peringatan Hari Film Nasional Tahun 2024

Opini · 2 Agu 2023 WIB

Health Belief Model: Konsep Kepercayaan Meningkatan Derajat Kesehatan


 Health Belief Model: Konsep Kepercayaan Meningkatan Derajat Kesehatan Perbesar

Mohammad Raju Sahrial Ilhami, Social Activist | Opini

Banyaknya Trend Issue yang terjadi di masyarakat mengenai fenomena kesehatan menjadi konsumsi yang setiap waktu terus berkembang baik dalam lingkungan sosial maupun dunia maya. Hal tersebut sejalan dengan persepsi masyarakat mengenai konsep kesehatan, kepercayaan akan kesehatan, dan juga pola penanganan kesehatannya. Demikian dalam fenomena yang terjadi di kalangan masyarakat, banyak intervensi yang dilakukan menggunakan teori-teori yang ada. Salah satunya adalah dengan teori Health Belief Model.

Teori Health Belief Model atau model kepercayaankesehatanmenunjukkan bahwa seseorang cenderungmengambil tindakan untuk mencegah penyakit tergantungpada keyakinan mereka atau hasil penilaian kesehatan.Seseorang akan bertindak untuk mencegah, mengurangi ataumengelola masalah kesehatan berdasarkan tujuh komponenHBM yaitu diantaranya, kerentanan yang dirasakan (Perceived susceptibility), bahaya/kesakitan yang dirasakan (Perceived severity), manfaat yang dirasakan (Perceived benefit), hambatan yang dirasakan (Perceived barrier), variable modifikasi (Modifying variable) dan isyarat untuk bertindak (Cues to action).

Pertama kali dikembangkan oleh Rsenstock pada tahun 1966 dan disempurnakan oleh Becker, dkk pada tahun 1970 dan 1980. Health Belief Model (HBM) merupakan suatu konsep yang mengungkapkan alasan dari individu untuk mau atau tidak mau melakukan perilaku sehat (Notoadmojo, 2007). Keinginan untuk menghindarkan penyakit atau menjadi sehat dan   keyakinan bahwa tindakan sehat tertentu yang bisa dilakukan akan mencegah atau mengurangi sakit bersamaan dengan harapan ini selanjutnya dijelaskan berkenaan dengan perkiraan individu tentang kerentanan pribadi terhadap penyakit dan berat penyakit serta kemungkinan kemampuan untuk mereduksi ancaman tersebut melalui tindakan pribadi.Penelitian-penelitian yang dilakukan oleh banyak pihak dan praktisi kesehatan dengan banyak memberikan intervensi melalui teori ini sudah sangat banyak dikembangkan.

Sebagai seorang lulusan dari keperawatan, saya pribadi memiliki penelitian sejalan dengan teori health belief modelini dengan menggunakan pendekatan asuhan keperawatan keluarga. Demikian penelitian yang berjudul “Asuhan Keperawatan Keluarga dengan Pendidikan Kesehatan Diet Hipertensi Menggunakan Teori Health Belief Model pada Ny. A dengan Hipertensi di Kp. Saguling Babakan, Kel. Kersamenak, Kec. Kawalu, Kota. Tasikmalaya. Bersama dengan pembimbing Nina Pamelasari, M.Kep menjadikan penelitian ini merupakan salah satu terobosan yang bisa dilaksanakan dalam rangka memberikan intervensi kesehatan di kalangan masyarakat yang terkhusus pada penanganan kasus-kasus penyakit salah satunya adalah hipertensi”.

Selain daripada banyaknya peran seorang perawat, salah satunya diantaranya adalah sebagai seorang pendidik (educator). Lebih dari itu dengan memberikan informasi yang memberdayakan klien (individu atau keluarga) untuk mengambil keputusan, mempertahankan kemandiriannya, dan memotivasi klien. Selain itu, perawat berperan sebagai pembaharu individu, keluarga dan kelompok terutama dalam mengubah perilaku dan gaya hidup yang berkaitan dengan peningkatan dan pemeliharaan kesehatan – Raju Ilhami

Sejalan dengan hal tersebut, penelitian yang saya lakukan adalah dengan memberikan pendidikan kesehatan diet hipertensi untuk mengetahui efektiftas pemberiannya dalam perubahan perilaku klien dalam menurunkan tekanan darah melalui pendekatan teori health belief model. Disamping lain, penelitian yang dilaksanakan selama 1 minggu ini memiliki efektifitas diantara beberapa intervensi lainnya sehingga dapat mewujudkan derajat kesehatan klien yang lebih baik dari sebelum diberikannya intervensi.

Sebagai seorang aktivits sosial, saya melihat banyak fenomena yang terjadi dikalangan masyarakat dalam rangka mempertahankan derajat kesehatannya. Salah satu faktor penghambatnya disinyalir menjadi hal yang marak dirasakan terutama dalam faktor ekonomi dan pendidikan. Sehingga mempengaruhi tingkat pengetahuan seseorang mengenai konsep kesehatannya dan bagaimana mempertahankan derajat kesehatannya sebaik mungkin.

Perlunya berbagai tindakan edukasi dan juga promosi kesehatan yang terus diupayakan menjadi salah satu harapan baru yang bisa dilakukan oleh generasi muda dan aktivis sehingga bentuk kegiatan tersebut menjadi salah satu peran penting yang bisa diamalkan kepada masyarakat dan lingkungan sekitar. Apalagi kita sebagai arda terdepan bangsa untuk senantiasa bisa membawa perubahan bagi lingkungan sekitar umumnya bagi bangsa Indonesia.

Opini ini sepenuhnya mewakili opini pribadi si penulis dan tidak mewakili redaksi.

Artikel ini telah dibaca 360 kali

badge-check

Redaktur

Baca Lainnya

Kajian Yuridis Hukum Lingkungan Terhadap Permasalahan Pencemaran Yang Terjadi di Sungai Kecamatan Dukupuntang

29 Februari 2024 - 14:41 WIB

Kriminalisasi Seksual Terhadap Jurnalis Perempuan di Indonesia

16 Februari 2024 - 10:54 WIB

Perlindungan Hukum Anak Di Bawah Umur Dalam Tindak Pidana Cyber

16 Februari 2024 - 10:49 WIB

Upaya Pertanggungjawaban dan Perlindungan Hukum Terhadap Perempuan Dalam Jaringan Tindak Pidana Peredaran Narkotika

16 Februari 2024 - 10:44 WIB

Bawaslu Wajib Lakukan Pembinaan Jajaran Pengawas Pemilu: Upaya Optimis Tingkatkan Kinerja di Pemilu 2024

26 Januari 2024 - 10:30 WIB

Penilaian Kritis 100 Hari Kepemimpinan: Kecaman Terhadap Langkah Politik Pragmatis PP IPM di Era Politik 2024

19 Januari 2024 - 22:38 WIB

Trending di Opini