Menu

Mode Gelap
Kabar Gembira! Mendikbudristek Batalkan Kenaikan UKT Mahasiswa Peringatan Hari Film Nasional ke-74 Tuai Sambutan Positif Masyarakat Kemendikbudristek: Pramuka Tetap Menjadi Ekstrakurikuler yang Wajib Disediakan Sekolah Memperingati Hari Film Nasional Tahun 2024, Kemendikbudristek Perkuat Ekosistem Perfilman Indonesia Kemendikbudristek Semarakan Peringatan Hari Film Nasional Tahun 2024

Kepemudaan · 1 Jul 2023 WIB

Mendorong Penguatan Literasi Anak Muda: Kunci Mengukir Masa Depan yang Lebih Bermutu dan Berdaya Saing


 Mendorong Penguatan Literasi Anak Muda: Kunci Mengukir Masa Depan yang Lebih Bermutu dan Berdaya Saing Perbesar

Putra Amin Amatulloh, Inisiator Gerakan Bangkit Literasi (Gerbasi) | Opini

Literasi ialah kemampuan individu untuk membaca, menulis, dan memahami informasi dengan baik. Kemampuan literasi memiliki peran krusial dalam perkembangan individu dan masyarakat. Literasi bukan hanya sekadar kemampuan kita untuk membaca, literasi juga dimaknai sebagai kemampuan untuk memahami konsep dari isi bacaan tersebut.

Literasi merupakan sebuah konsep yang memiliki makna kompleks, dinamis, terus ditafsirkan dan didefinisikan dengan beragam cara dan sudut pandang. Menurut kamus online Merriam-Webster, Literasi berasal dari istilah latin literature dan bahasa inggris letter. Literasi merupakan kualitas atau kemampuan melek huruf/aksara yang di dalamnya meliputi kemampuan membaca dan menulis.

Menurut KBBI, literasi memiliki 3 makna yaitu: kemampuan menulis dan membaca, pengetahuan atau keterampilan dalam bidang atau aktivitas tertentu dan kemampuan individu dalam mengolah informasi dan pengetahuan untuk kecakapan hidup.

Lalu pemaknaan dari UNESCO, literasi ialah seperangkat keterampilan nyata, terutama keterampilan dalam membaca dan menulis yang terlepas dari konteks yang mana keterampilan itu diperoleh serta siapa yang memperolehnya.

Di era digital seperti sekarang ini, di mana informasi mudah diakses melalui berbagai media, penting bagi anak muda untuk memiliki literasi yang kuat agar dapat berpartisipasi secara aktif dalam masyarakat yang semakin kompleks.

Di Indonesia, kondisi literasi anak muda saat ini masih menghadapi beberapa tantangan, namun langkah-langkah yang konkret perlu diambil untuk memperkuat literasi generasi muda dan menjamin masa depan yang bermutu dan berdaya saing.

Tantangan Literasi di Indonesia

Kondisi literasi di Indonesia saat ini masih menghadapi beberapa tantangan yang perlu segera diatasi. Menurut survei yang dilakukan Program for International Student Assessment (PISA) yang di rilis Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) pada 2019, Indonesia menempati peringkat ke 62 dari 70 negara, atau merupakan 10 negara terbawah yang memiliki tingkat literasi rendah.

Selanjutnya, Hasil Asesmen Nasional (AN) 2021 yang dilakukan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) menunjukkan bahwa Indonesia mengalami darurat literasi: 1 dari 2 peserta didik belum mencapai kompetensi minimum literasi.

Hasil AN 2021 konsisten dengan hasil PISA 20 tahun terakhir yang menunjukkan bahwa skor literasi membaca peserta didik di Indonesia masih rendah dan belum berubah secara signifikan di bawah rata-rata peserta didik di negara OECD.

Salah satu tantangan utama kita adalah kurangnya minat membaca. Menurut data UNESCO, Hanya 1 orang dari 1.000 penduduk yang memiliki minat baca (0,001). Lalu, hasil penelitian Perpustakaan Nasional mengungkapkan bahwa masyarakat Indonesia rata-rata membaca sekitar 2-4 jam per hari, di bawah standar UNESCO sekitar 4-6 jam per hari. Masyarakat di negara maju rata-rata meluangkan 6-8 jam per hari untuk membaca.

Fenomena ini menunjukkan bahwa anak muda di Indonesia perlu didorong untuk membaca lebih banyak agar memperkuat kemampuan literasi mereka.

Selain itu, akses terhadap bahan bacaan yang berkualitas juga menjadi hambatan. Terutama di daerah pedesaan dan pinggiran kota, akses terhadap perpustakaan dan toko buku sering kali terbatas. Meskipun teknologi telah memudahkan akses terhadap bahan bacaan melalui internet, masih ada kesenjangan akses terkait infrastruktur dan ketersediaan konten yang relevan.

Langkah-langkah untuk Memperkuat Literasi Anak Muda

Untuk mengatasi tantangan literasi di Indonesia, beberapa langkah konkret dapat diambil untuk memperkuat literasi anak muda.

Pertama yaitu, mendorong minat membaca sejak usia dini. Penting untuk memperkenalkan anak-anak pada kegiatan membaca sejak usia dini. Ini dapat dilakukan melalui program literasi di sekolah dengan meningkatkan buku bacaan yang bermutu dan di kegiatan di lingkungan masyarakat. Dalam hal ini, peran orang tua, guru, maupun komunitas sangat penting dalam menginspirasi minat membaca pada anak-anak, dengan proses pengenalan yang lebih menarik dan menyenangkan.

Kedua, peningkatkan akses terhadap bahan bacaan. Perlu ada upaya untuk meningkatkan akses terhadap perpustakaan dan toko buku di seluruh wilayah Indonesia, terutama di daerah yang sulit dijangkau. Selain itu, perlu juga ditingkatkan buku bacaan yang bermutu si sekolah-sekolah, serta akses terhadap konten digital yang berkualitas melalui pengembangan platform literasi online.

Ketiga, membangun budaya literasi di masyarakat. Perlu dilakukan upaya untuk membangun budaya literasi di masyarakat. Ini dapat dilakukan melalui kampanye literasi di media sosial, penyelenggaraan festival literasi, serta melibatkan komunitas dan organisasi yang peduli terhadap literasi untuk bersama saling bergerak, berjuang dan berkolaborasi untuk masa depan literasi di Indonesia.

Keempat, mengintegrasikan literasi dalam kurikulum pendidikan, Literasi perlu menjadi bagian integral dalam kurikulum pendidikan, tidak hanya pada tingkat sekolah dasar dan menengah, tetapi juga pada tingkat perguruan tinggi. Peningkatan kompetensi literasi akan mempersiapkan anak muda untuk menghadapi tantangan dunia yang semakin kompleks.

Kelima, mendorong pemanfaatan teknologi untuk literasi. Teknologi dapat menjadi alat yang powerful untuk memperkuat literasi anak muda. Pengembangan aplikasi dan platform digital yang menarik, interaktif, dan edukatif dapat membantu meningkatkan minat dan kemampuan literasi anak muda di Indonesia.

Literasi adalah kunci untuk membentuk anak muda yang berdaya saing dan siap menghadapi masa depan. Penting bagi semua pemangku kepentingan, baik pemerintah, sekolah, orang tua, LSM/NGO, komunitas, pihak swasta dan tentunya seluruh masyarakat di Indonesia untuk bersinergi dalam menciptakan ekosistem literasi yang bermutu, berdaya saing dan berkelanjutan.

Melalui Gerakan Bangkit Literasi (Gerbasi) kami berikhtiar dengan berupaya mendorong peningkatan minat membaca di tengah masyarakat serta menumbuhkan kesadaran literasi dalan kehidupan sehari-hari.

Saya mengajak teman-teman pejuang literasi yang memiliki semangat yang sama untuk bergabung dalam gerakan ini, bersama membangun masa depan anak muda, mendorong penguatan literasi, agar masa depan Indonesia lebih baik lagi kedepannya.

Gerakan Bangkit Literasi, Berjuang Untuk Negeri!

Artikel ini telah dibaca 352 kali

badge-check

Redaktur

Baca Lainnya

Kabar Gembira! Mendikbudristek Batalkan Kenaikan UKT Mahasiswa

27 Mei 2024 - 15:37 WIB

Kemendikbudristek: Pramuka Tetap Menjadi Ekstrakurikuler yang Wajib Disediakan Sekolah

1 April 2024 - 14:48 WIB

Kajian Yuridis Hukum Lingkungan Terhadap Permasalahan Pencemaran Yang Terjadi di Sungai Kecamatan Dukupuntang

29 Februari 2024 - 14:41 WIB

Kriminalisasi Seksual Terhadap Jurnalis Perempuan di Indonesia

16 Februari 2024 - 10:54 WIB

Perlindungan Hukum Anak Di Bawah Umur Dalam Tindak Pidana Cyber

16 Februari 2024 - 10:49 WIB

Upaya Pertanggungjawaban dan Perlindungan Hukum Terhadap Perempuan Dalam Jaringan Tindak Pidana Peredaran Narkotika

16 Februari 2024 - 10:44 WIB

Trending di Opini