Menu

Mode Gelap
Kabar Gembira! Mendikbudristek Batalkan Kenaikan UKT Mahasiswa Peringatan Hari Film Nasional ke-74 Tuai Sambutan Positif Masyarakat Kemendikbudristek: Pramuka Tetap Menjadi Ekstrakurikuler yang Wajib Disediakan Sekolah Memperingati Hari Film Nasional Tahun 2024, Kemendikbudristek Perkuat Ekosistem Perfilman Indonesia Kemendikbudristek Semarakan Peringatan Hari Film Nasional Tahun 2024

Opini · 2 Mei 2023 WIB

Six Thinking Hats dan Upaya Memfilter Arus Globalisasi


 Sumber: untools.co Perbesar

Sumber: untools.co

Muhammad Zaki Ubaidillah, Mahasiswa Universitas Brawijaya |Opini

Six Thinking Hats atau enam topi berpikir adalah sebuah metode pemikiran yang diciptakan oleh Edward de Bono, seorang psikolog dari Malta pada tahun 1986. Metode ini berfokus pada memandang suatu masalah dari sudut pandang yang berbeda-beda dengan memakai topi berbedabeda. Metode ini dapat diterapkan dalam berbagai situasi, termasuk dalam upaya memfilter arus globalisasi.

Dalam era globalisasi yang semakin cepat dan kompleks, penting bagi kita untuk tidak hanya mempertimbangkan sudut pandang internal, tetapi juga mempertimbangkan implikasi global dari tindakan kita. Oleh karena itu, penerapan metode Six Thinking Hats dalam memfilter arus globalisasi dapat membantu kita untuk memperoleh pemahaman yang lebih luas tentang globalisasi dan dampaknya.

Metode Six Thinking Hats direpresentasikan melalui enam topi berpikir yang memiliki warna berbeda dan fungsi masing-masing, yaitu topi putih untuk mengumpulkan informasi, topi merah untuk perasaan tentang sebuah masalah, topi hitam untuk hal negatif dari sebuah masalah, topi kuning untuk hal positif dari masalah, topi hijau untuk solusi pemecahan masalah, dan terakhir adalah topi biru yaitu untuk membuat kesimpulan atau mengambil keputusan guna menentukan langkah-langkah selanjutnya.

• Perspektif Topi Putih

Topi putih digunakan untuk mengumpulkan informasi tentang globalisasi, seperti perdagangan internasional, investasi asing, dan arus migrasi global. Dalam hal ini, kita harus mempertimbangkan fakta dan angka-angka tentang dampak globalisasi pada perekonomian dan masyarakat.

• Perspektif Topi Merah

Topi merah digunakan untuk membahas dampak emosional dari globalisasi. Globalisasi dapat menghasilkan perasaan positif seperti kebanggaan dalam partisipasi dalam perdagangan internasional atau kerja sama global, namun juga dapat menimbulkan kekhawatiran tentang hilangnya identitas nasional atau kehilangan pekerjaan akibat persaingan internasional.

• Perspektif Topi Hitam

Topi hitam digunakan untuk mempertimbangkan risiko dan ancaman yang mungkin muncul sebagai hasil dari globalisasi. Risiko ini dapat meliputi hilangnya lapangan kerja, merosotnya standar lingkungan atau kesehatan, atau bahkan masalah keamanan global seperti terorisme atau konflik militer.

• Perspektif Topi Kuning

Topi kuning digunakan untuk membahas manfaat dan potensi keberhasilan dari globalisasi. Hal ini melibatkan pengenalan konsep-konsep seperti pertumbuhan ekonomi, peningkatan perdagangan, dan keterbukaan budaya yang dapat membawa dampak positif bagi masyarakat global.

• Perspektif Topi Hijau

Topi hijau digunakan untuk menghasilkan ide-ide baru dan alternatif dalam menyelesaikan masalah globalisasi. Ini melibatkan mencari cara untuk menyeimbangkan manfaat dan risiko dari globalisasi, mencari solusi yang inovatif dan efektif untuk mengatasi dampak negatif dari globalisasi, dan mencari cara untuk mempromosikan keberhasilan dan manfaat dari globalisasi di seluruh dunia.

• Perspektif Topi Biru

Topi biru digunakan sebagai kontrol pemikiran, yang melibatkan pengawasan dan koordinasi pemikiran yang sedang dilakukan dengan mengarahkan diskusi pada tujuan yang telah ditetapkan dan memastikan bahwa semua sudut pandang telah dipertimbangkan secara adil dan seimbang.

Dalam upaya memfilter arus globalisasi, metode Six Thinking Hats dapat membantu kita untuk mempertimbangkan sudut pandang yang berbeda-beda dengan memakai topi berbeda-beda. Metode berpikir paralel ini sangat efisien dalam mendiskusikan atau dalam menilai suatu pemikiran, dibandingkan dengan metode argumentasi yang dinilai oleh Edward de Bono sebagai “metode yang telah usang” dan sudah tidak kompatibel lagi digunakan di zaman yang semakin modern. Melalui penerapan metode ini, kita dapat menemukan keseimbangan yang tepat antara manfaat dan risiko globalisasi dan memaksimalkan kontribusi positif global.

Opini ini sepenuhnya mewakili opini pribadi si penulis dan tidak mewakili redaksi.

Artikel ini telah dibaca 28 kali

badge-check

Redaktur

Baca Lainnya

Kajian Yuridis Hukum Lingkungan Terhadap Permasalahan Pencemaran Yang Terjadi di Sungai Kecamatan Dukupuntang

29 Februari 2024 - 14:41 WIB

Kriminalisasi Seksual Terhadap Jurnalis Perempuan di Indonesia

16 Februari 2024 - 10:54 WIB

Perlindungan Hukum Anak Di Bawah Umur Dalam Tindak Pidana Cyber

16 Februari 2024 - 10:49 WIB

Upaya Pertanggungjawaban dan Perlindungan Hukum Terhadap Perempuan Dalam Jaringan Tindak Pidana Peredaran Narkotika

16 Februari 2024 - 10:44 WIB

Bawaslu Wajib Lakukan Pembinaan Jajaran Pengawas Pemilu: Upaya Optimis Tingkatkan Kinerja di Pemilu 2024

26 Januari 2024 - 10:30 WIB

Penilaian Kritis 100 Hari Kepemimpinan: Kecaman Terhadap Langkah Politik Pragmatis PP IPM di Era Politik 2024

19 Januari 2024 - 22:38 WIB

Trending di Opini